Mabuk Kepayang

INI analisis singkat seputar Pilgub DKI Jakarta. Orang bilang Pilgub kali ini layaknya sebuah Pilpres. Sayangnya, jika rakyat biasa pun tahu – bahkan yakin – bahwa pasangan Ahok – Djarot bakal menang bila lawannya lebih dari satu pasang, maka para pemimpin Parpol justru seperti mabuk kepayang. Mereka ramai ramai menampilkan sejumlah nama balon, diiringi sejumlah argumen seolah sebuah simponi yang mengiringi lenggang pragawan yang sedang on stage.

Suka atau tidak, senang atau benci, kita harus melihat kelebihan / kekurangan calon yang ada secara obyektif. Andai saya warga DKI, saya tak akan pilih Ahok, alasannya rasional – emosional, dan itu menjadi rahasia saya sendiri. Tapi harus saya akui, dibanding sejumlah bakal calon yang namanya digadang gadang bakal maju ‘’menghadang’’ Ahok, jelas mantan Bupati Beltim ini (Belitung, sebuah destinasi wisata yg sangat aduhai-pen) punya banyak keunggulan dan itu sudah diketahui umum. Walau bukan berarti Ahok tidak punya kekurangan, seperti wataknya yang dinilai banyak orang sombong, arogan, kasar, dan kebijakannya dinilai pro pemodal kuat.

Layaknya dua kesebelasan yang sedang merumput, saya berpendapat Ahok dan timnya kini sudah unggul 2-0. Pertama, adalah strategi Megawati dan tim Ahok yang membuat lawan lawannya hanya menunggu, berharap manajer Ahok akan berpihak kepada mereka, dan karena itu ‘’lalai’’ sampai batas waktu yang sangat mepet — waktu tersisa tinggal satu hari — belum juga mampu menyusun pemain. Belum mampu memutuskan, siapa bakal calon gubernur yang pasti maju dan siapa wakilnya.

Kedua, setelah Ahok- Djarot mulai menendang bola, para manager lawan justru sibuk cari kapten, siapa yang tepat melawan Ahok. Maka muncullah nama nama seperti Rizal Ramli, Anies Baswedan bahkan Agus Harimurti Yudhoyono, mendahului dua nama terdahulu, Sandiaga Uno dan Yusril Ihza Mahendra. Kemunculan nama nama ini – dalam pandangan kita – lebih karena selera alias tidak didasarkan pada strategi dan taktik perang.

Agus Harimurti yang berpangkat mayor di Angkatan Darat ini, masih terlalu muda dan karena itu masih berpeluang besar untuk berkarir sampai puncak di TNI. Keputusan Susilo Bambang Yudhoyono selaku Ketua Umum Partai Demokrat — dalam pandangan kita — kurang tepat, karena bagaimana pun jika ia maju mengikuti Pilkada harus mundur dari TNI. Sementara Anies Baswedan yang sempat dikenal sebagai figur pintar dan santun tidak cukup lama  ”mem-PR-kan” dirinya ketika menjabat menteri pendidikan. Kemampuan manajerialnya belum teruji dan belum banyak diketahui warga Jakarta.

Layak kita bertanya kepada para pimpinan Parpol pengusung, apakah pencalonan Agus Harimurti dan Anies Baswedan, misalnya, benar benar sudah dikaji dan ditujukan untuk mengalahkan Ahok sebagai petahana? Sepertinya, pencalonan ini lebih merupakan euforia atau juga boleh dibilang karena mabuk kepayang, punya kesempatan dan peluang memunculkan orang orang yang disuka, tanpa harus berpikir untuk menang. Boleh juga kita berpantun, pake taksi ke Tanjung Kelayang, Ahok beraksi lawan mabuk kepayang. Siapa peduli?

Posted on September 23, 2016, in Blog. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: