Pengemis Berdasi

INI pembicaraan seputar Blok Mahakam.  Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo mengatakan, pemerintah belum memutuskan apakah akan memperpanjang kontrak karya Blok Mahakam ke raksasa migas Perancis, Total E&P atau tidak. Namun untuk mengelola sendiri (baca: Pertamina-red) Blok Mahakam yang akan berakhir kontraknya pada 2017 mendatang, Susilo mengingatkan dibutuhkan banyak uang, teknologi, pengalaman, dan keberanian mengambil risiko.

Pernyataan Wakil Menteri ESDM ini mirip-mirip, bahkan  serupa dan sama, dengan pernyataan Rudi Rubiandini sebelumnya. Saat menjabat Wakil Menteri ESDM, bahkan Rudi yang Kepala SKK Migas dan kini jadi ‘’pesakitan’’  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) – karena tertangkap tangan menerima suap  — justru sempat menuai banyak kritik karena meragukan kemampuan Pertamina. Rudi  ketika itu dituduh lebih pro asing dan tidak mengindahkan Pasal 33 UUD 45.  

Masih seputar pembicaraan tentang Blok Mahakam, Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas bicara blak-blakan. Menurut dia, banyak pejabat yang bertanggungjawab dalam pembahasan kontrak karya  migas yang bermental calo, hanya menunggu fee, seperti pengemis berdasi.

Kendati kita yakin bahwa pernyataan Muqoddas bukanlah ditujukan secara khusus kepada dua pejabat yang paling berkompeten di bidang migas di atas (mantan Wakil Menteri ESDM  dan penggantinya), tapi pernyataan Wakil Ketua KPK ini sebenarnya terasa seperti meneguhkan  ‘’kecurigaan’’ masyarakat selama ini. Kecurigaan masyarakat Indonesia terhadap perilaku banyak pejabat dan dalam banyak hal, yang cenderung lebih pro asing ketimbang  pro negeri atau bangsa sendiri.  Perhatikanlah di sekeliling kita, dewasa ini segala sesuatunya selalu berbau asing, seolah bangsa  ini tak pernah lepas dari ketergantungan kepada pihak asing.  Bahkan dapat dikatakan,  semakin lama semakin tergantung.

Apa dalam kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia  dewasa ini yang tak berbau asing? Buah, sayur, makanan pokok seperti beras dan daging, tidak ada yang tidak diimpor. Para pejabat negeri ini pun seperti punya hobi baru, ’’hobi mengimpor’’ sampai-sampai, cabe, cabe rawit dan singkong pun diimpor. Dalihnya toh sangat logis: kita lebih memilih barang impor dari pada kita tak bisa menjaga stabilisasi harga-harga di dalam negeri. Sama logisnya dengan dalih:  kita butuh banyak uang, teknologi, pengalaman dan keberanian mengambil risiko – ketika masyarakat menghendaki pengelolaan tambang-tambang yang ada di negeri ini diserahkan untuk dikelola sendiri anak-anak bangsa.

Pertanyaannya, sampai kapan Indonesia terus mengimpor? Sampai kapan Indonesia menyerahkan semua kuasa pertambangan kepada asing dan membiarkan putra-putra bangsa jadi penonton di negerinya sendiri? Kapan bangsa ini bisa mandiri dengan memproduksi semua bahan kebutuhan hidupnya?

Pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab inilah sebenarnya yang menimbulkan kecurigaan rakyat Indonesia selama ini. Apa iya sih bangsa Indonesia begitu bodoh? Atau apa ada udang di balik batu dari sikap, ucapan dan kebijakan yang diambil para pejabat pro asing itu?

Pernyataan blak-blakan Wakil Ketua KPK tentang pengemis berdasi, bermental calo dan hanya menunggu fee, semakin meneguhkan kecurigaan rakyat Indonesia selama ini terhadap banyak pejabatnya, yang tak ada bedanya dengan – meminjam kembali kredo yang sering digunakan di zaman rezim orde lama –komprador-komprador asing, yang berpikir memupuk kekayaan untuk diri sendiri dan mempersetankan kepentingan bangsa. Kasihan. (ramly amin/ dimuat di Harian Terbit 31-08-2013)

 

Posted on September 6, 2013, in Tajuk. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: