Ideologi dan Kemandirian Bangsa

MENARIK untuk disimak, dari sebuah diskusi bertajuk  ‘’Upaya Membangun Kemandirian Bangsa’’ yang digelar sebagai bagian dari Refleksi 68 Tahun Indonesia Merdeka di Jakarta kemarin, muncul kesimpulan: Indonesia memerlukan pemimpin yang membangun kemandirian bangsa.

Pengamat politik senior dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit, dalam diskusi yang diikuti sejumlah politisi ini, antara lain menyebutkan, Indonesia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya populer di mata masyarakat, tapi juga memiliki kapabilitas. Pemimpin yang memiliki dua hal tersebut menurut Arbi  masih sulit ditemukan akibat belum adanya sistem kader yang bagus.

Kemandirian bangsa, itulah kata kunci persoalan kita dewasa ini. Bahkan, mungkin juga menjadi titik fokus para founding fathers ketika bangsa ini baru saja memerdekakan diri dari penjajah. Sekadar flashback, di era Soekarno yang juga disebut-sebut era orde lama, cita-cita kemandirian bangsa ketika itu digelorakan melalui slogan  ’’berdikari’’ alias berdiri di atas kaki sendiri. Di era Soeharto yang juga disebut era orde baru, kemandirian bangsa digelorakan dengan jelas-jelas menyebut kata ‘’bangsa yang mandiri’’. Persoalannya memang tidak mudah. Kemandirian seperti apa yang dimaksudkan?

Sungguh tidak mudah, memang. Di era globalisasi dewasa ini, di era pergaulan bangsa-bangsa di dunia yang semakin intens, di mana hampir-hampir tak ada lagi bangsa yang tidak  ikut arus pergaulan dunia, merumuskan kemandirian bangsa lalu kemudian mengimplementasikannya bukanlah persoalan gampang. Andai setiap pembantu presiden di era pemerintahan Yudhoyono diwawancarai satu per satu, niscaya jawaban yang muncul pasti akan seragam: semua kebijakan yang mereka ambil dan jalan yang mereka tempuh adalah demi memandirikan bangsa Indonesia.

Tapi, rumusan apa yang dapat kita berikan ketika semua aspek kehidupan dewasa ini semakin bergantung kekuatan modal asing? Apa yang dapat dikatakan ketika rakyat Indonesia dewasa ini semakin lama semakin banyak dihadapkan kepada barang-barang impor, mulai dari beras, gula, jagung, cabe, bahkan sampai singkong? Apa rumusannya ketika lebih dari 80 persen aktivitas pertambangan di bumi Indonesia dikuasai asing melali kontrak karya maupun dalam bentuk kerjasama?

Dalam kaitan ini, tak berlebihan jika tokoh seperti Amien Rais kemarin melontarkan statemen pendek, namun cukup menyentak, bahwa kita menjadi jongos di rumah sendiri, dan ekonomi Indonesia tidak berdaulat, hancur-hancuran.

Dalam kesempatan ini, Amien Rais yang pernah mendapat julukan tokoh atau gerbong reformasi itu terkesan membela diri, keadaan ekonomi yang tidak berdaulat dan hancur-hancuran ini bukan karena konstitusi, tapi people behind constitution alias manusia-manusia pelaksana.

Amien tak sepenuhnya benar walau juga tidak salah. Yang mesti diingat, tentu tak lepas dari pentingnya sebuah ideologi. Orang boleh berpendapat, bahwa ideologi sudah berakhir (bandingkan dengan  Francis Fukuyama: berakhirnya sejarah). Tapi dalam melihat dan menelaah kondisi dunia yang mengglobal dewasa ini dengan segala effek dan impaknya, dalam pandangan kita, mau tidak mau harus dibedah melalui kacamata ideologi. Ketiadaan ideologi sebagai nafas perjuangan, itulah yang melanda para elit kita dewasa ini, yang pada gilirannya menjerumuskan mereka ke alam pragmatis. Terjadilah tambal sulam dalam setiap kebijakan. Di dalam kehidupan sehari-hari, para pemimpin pun seriung melahirkan kebijakan yang menabrak bahkan bertentangan dengan ideologi bangsa kita, Pancasila. Tanpa idelogi, tak mungkin lahir pemimpin yang mampu membangun kemandirian bangsa.Itu saja.(ramly amin/ dimuat di Harian Terbit 24-8-203)

 

 

//

Posted on September 6, 2013, in Tajuk. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: